Hari Raya Rasulullah SAW bersama "Anak Yatim"
Fajar 1 syawal
menyinsing, menandai berakhirnya bulan Ramadhan bulan penuh kemuliaan.
Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil
berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki
melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama ALLAH lewat Takbir. Hingga
langit pun bersaksi,di hari itu segenap mata tak kuasa membendung air
mata keharuan saat berlebaran.
Sementara itu
Rasulullah SAW, seperti biasa mengunjungi rumah demi rumah untuk
mendo'akan kaum muslimin agar merasa bahagia pada hari raya itu. Semua
terlihat bergembira dan bahagia terutama anak-anak mereka bermain sambil
berlarian kesana kemari dengan penuh kegembiraan dengan menggunakan
pakaian serba baru, tak jauh dari Rosulullah tampaklah ada seorang anak
yang sedang bermurung diri dan bersedih disaat anak-anak lain
bergembira, penampilan anak itu sangat lusuh sekali dengan mengenakan
pakaian tambalan dan sepatu yang sudah usang. Kemudian Rasulullah
menghapiri anak tersebut sambil bertanya dengan suara lembutnya "anakku, mengapa kamu menangis? hari ini adalah hari raya bukan?"
Sambil menutup
wajahnya anak itu menjawab pertanyaan Rosulullah dengan tanpa berani
menatap siapa yang bertanya diantara isak tangisnya, dia pun bercerita "pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakan bersama orang tuanya dengan
berbahagia, anak-anak bermain dengan riang gembira, aku lalu teringat
ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir ku
bersama ayah, ia membelikanku gaun berwarna hijau dan sepatu baru, waktu
itu aku sangat berbahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang
bersama Rosulullah dan dia pun mendapatkan syahidnya sehingga sekarang
aku menjadi yatim, jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?"
Setelah mendengar
cerita anak itu Rasulullah SAW seketika itu hatinya diliputi kesedihan
yang mendalam, kemudian dia membelai kepala anak itu sambil berkata "anakku,
hapuslah air matamu...angkatlah kepalamu dan dengarkanlah apa yang
ingin kukatakan kepadamu...apakah kamu ingin agar aku menjadi
ayahmy?...dan apakah kamu ingin Fatimah menjadi kakak perempuanmu....dan
Aisyah menjadi ibumu....bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?" begitu mendengar perkataan Rasulullah berhentilah tangisnya, ia merasa takjub pada orang yang ada di depannya. Masya ALLAH! Benar,
ia adalah Rasulullah SAW. Anak itu sangat tertarik terhadap tawaran
Rasulullah, namun entah kenapa dia tak bisa berkata apa-apa, ia hanya
menganggukan kepala tanda setuju atas tawaran Rasulullah.
Anak yatim itu
pun dibawa Rasulullah kerumahnya, sesampai dirumah Rasulullah
membersihkannya, memakaikan padanya gaun yang indah dan diberi
makanan juga uang saku untuk hari raya, kemudian diantarnya anak itu
keluar rumah, agar dapat bermain bersama anak-anak yang lainnya.
Anak-anak yang lain merasa iri terhadapnya dan mereka merasa heran dan bertanya kepada anak tersebut "gadis kecil, apa yang telah terjadi? mengapa kamu terlihat bergembira sekali? sambil menunjukan gaun barunya dan uang dia pun menjawab "akhirnya aku memiliki seorang ayah! didunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! siapa
yang tidak berbahagia memiliki ayah seperti Rasulullah SAW, manusia
yang mulia. Aku juga memiliki seorang ibu namanya Aisyah, yang hatinnya
begitu mulia, dan seorang kakak perempuan yang bernama Fatimah. Ia
menyisir rambutku dan memakaikan gaun yang indah ini. Aku merasa sangat
berbahagia sekali, dan rasanya ingin sekali aku memeluk dunia berserta
isinya."
Rasulullah bersabda : "siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan
mendandaninya pada hari raya, maka ALLAH SWT, akan mendandani
/menghiasinya pada hari kiamat. ALLAH SWT mencintai terutama setiap
rumah, yang didalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan
hadiah. Barang siapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka
ia akan bersamaku di Surga." ( sumber : dari berbagai artikel )
FIRMAN ALLAH SWT TENTANG ANAK YATIM:
“Dan berbuat baiklah
kepada ibu bapak dan kaum kerabat serta anak-anak yatim dan orang-orang
miskin.” (QS Al Baqoroh,2:83)
“Dan memberikan harta
yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang
miskin.” (Al Baqoroh,2:177)
“Katakanlah, “Apa saja
harta benda (yang halal) yang kamu infakkan, maka berikanlah kepada ibu
bapak, kaum kerabat dan anak-anak yatim.” (QS Al Baqoroh,2:215)
“Dan mereka bertanya
kepadamu mengenai anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan
anak-anak yatim itu amat baik bagimu.” (QS Al Baqoroh,2:220)
“Dan berikanlah kepada
anak-anak yatim (yang telah baligh) harta-harta mereka.” (QS An
Nisaa,4:2)
“Dan jika kamu takut
tidak dapat berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim (bila kamu
menikahi mereka), maka nikahilah dua, tiga atau empat…” (QS An
Nisaa,4:31)
“Dan ujilah anak-anak
yatim itu (sebelum baligh) sehingga mereka cukup umur (dewasa). Kemudian
jika kamu melihat keadaan mereka (tanda-tanda yang menunjukkan bahwa
mereka telah berfikir matang dan mampu menjaga hartanya) maka
serahkanlah kepada mereka hartanya. Janganlah kamu makan harta anak-anak
yatim secara melampaui batas dan secara terburu-buru (merebut
kesempatan) sebelum mereka dewasa.” (QS An Nisa,6)
“Dan hendaklah kamu
berbuat baik kepada ibu bapakmu dan kaum kerabat dan anak-anak yatim.”
(QS An Nisaa,4:127)
“Dan apa yang selalu
dibacakan kepadamu dalam kitab ini mengenai perempuan-perempuan yatim…”
(QS An Nisaa,4:6)
“Dan (kamupun
diwajibkan) supaya mengurus (hak dan keperluan) anak-anak yatim dengan
adil.” (QS An Nisaa,4:127)
“Dan janganlah kamu
hampiri harta anak yatim melainkan dengan cara yang baik (untuk
menjaganya)….” (QS Al An’am,6:521)
“Dan janganlah kamu
menghampiri harta anak yatim melainkan dengan cara yang baik…” (QS Al
Isro,17:34)
“Mereka juga memberi
makan dengan makanan yang dibutuhkan dan disukainya kepada orang miskin
dan anak yatim serta tawanan.” QS Ad Dahr,76:8)
“Tidak sekali-kali,
bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.” (QS Al Fajr,89:17)
“Atau memberi makan
pada hari kelaparan terhadap anak-anak yatim dari kaum kerabat.” (QS Al
Balad,90:14-15)
“Bukankah DIA dapati
engkau dalam keadaan yatim, lalu DIA melindungi.” (QS Ad Dhuha,93:6)
“Maka adapun terhadap
anak yatim, maka janganlah engkau hinakan.” (QS Ad Dhuha,93:9)
Persoalan anak yatim
adalah persoalan yang sangat besar dan setiap orang bertanggungjawab
untuk ‘menjaga’ mereka, harta mereka dengan hati-hati dan menyampaikan
faidah dari harta anak yatim itu kepada mereka dan menjauhkan diri agar
tidak memakan harta anak yatim. Bila hendak mengawini perempuan yatim,
jangan sampai mengurangi mas kawinnya.
Rosululloh saw.
bersabda, “Aku dan penjaga anak yatim akan berada di dalam Jannah yang
berdekatan seperti dekatnya jari tengah dan jari telunjuk.”
Rosululloh saw.
mengisyaratkan bahwa jari tengah lebih tinggi dari jari telunjuk,
maksudnya adalah karena kenabian, kedudukan beliau saw. lebih tinggi
dari orang lain, tetapi ‘penjaga’ anak yatim dan penjaga harta mereka
akan berada berdekatan dengan beliau saw.
Rosululloh saw.
bersabda, “Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim
dengan penuh kasih sayang, maka untuk setiap helai rambut yang
disentuhnya akan memperoleh satu pahala, dan barangsiapa berbuat baik
terhadap anak yatim, dia akan bersamaku di Jannah seperti dua jari ini.”
Ketika mensabdakan hadits ini Rosululloh saw. berisyarat dengan jari
telunjuk dan jari tengahnya.
Diterangkan dalam
sebuah hadits bahwa pada hari hisab ada sebagian orang yang dibangkitkan
dalam keadaan api dinyalakan di mulut mereka. Mendengar hal ini
sebagian sahabat r.a. bertanya, “Ya Rosululloh, siapakah mereka ini?”
Rosululloh saw. menjawab dengan membaca ayat al Qur-an surat An
Nisaa,4:10 “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim
secara zhalim, sesungguhnya ia memasukkan api ke dalam perutnya. Dan
mereka akan memasuki api yang menyala-nyala (neraka).”
Pada malam Isro
Mi’raj, Rosululloh menemui suatu kaum yang bibir mereka besar seperti
unta. Beberapa Malaikat dengan kasar membuka mulut mereka dan memasukkan
batu-batu berapi yang besar ke dalamnya. Api itu masuk melalui
mulut-mulut mereka dan keluar melalui dubur mereka, mereka menjerit dan
menangis karena kesakitan. Rosululloh menanyakan ini kepada Jibril a.s.,
“Siapakah mereka itu?” Jibril a.s. menjawab”Merekalah orang-orang yang
memakan harta anak yatim secara zhalim. Kini mereka memakan api.”










